Like on Facebook

Selasa, 20 Maret 2012

IBU GURU SONADE

hahahaaa,,
ga menyangka, tiba-tiba menemukan sebuah cerita pendek yang dibuat ketika kelas 3 SMP..
gue pos aja,,,

cerita ini ada kesamaan nama tokoh dalam anime Naruto (gue suka FIlm dan cerita Naruto),,hehehe

yang gue pikir itu sangat ga pas nama tokoh itu buat cerita disini,, hahahahaa

=======================================================================


Setiap hari ibu guru Sonade datang pagi. Ibu Sonade memang guru yang rajin dan ramah. Ibu Sonade selalu datang pagi – pagi, bahkan sebelum guru yang lain datang ibu Sonade sudah berada ditempat kerjanya. Murid – murid sangat menyeganinya dan senang diajarnya. Sekarang, umur Ibu Sonade sudah lebih dari 45 tahun, dan sudah mengajar lebih dari 20 tahun serta beliau adalah guru wiyata bakti.

Pada suatu hari dengan langkah tegap, ibu guru Sonade menyusuri jalan setapak menuju ke sekolahnya tempatnya mengabdikan diri. Mendidik putra putri generasi penerus bangsa. Dengan keringat yang membasahi keningnya, senyum ramahnya tetap menghias menghampiri anak didiknya yang berhamburan mengerumuni untuk menyalami tangan keriputnya. Pergi sudah rasa lelahnya melihat kelucuan dan keluguan anak didiknya. Sebuah kebahagian tersendiri bagi seorang guru karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.

Bel tanda masuk berbunyi. Ibu Guru Sonade bersiap mengajar.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakathu” ibu guru Sonade memberi salam.
“Wa’alaikumsalam  warahmatullahi wabarakathu” suara mereka bergema ke ruangan kelas tersebut.
“Sebelum memulai pelajaran, kita berdoa dulu. Silahkan ketua kelas” perintah Ibu guru Sonade.
“Siap grap!berdo’a mulai!”Ucap Naruto sebagai ketua kelas 3. Murid – muridpun berdo’a dengan tenang diikuti oleh ibu guru Sonade. Satu ruangan yang terdiri dari tiga puluhan siswa saja yang terdiri dari kelas I, II, dan III.

Mentari pagi sedang hangat – hangatnya, begitupun suasana hangat di kelas yang ibu gurunya ramah itu. Dengan sabar dan perhatian dibimbingnya anak – anak itu untuk belajar. Selain menyampaikan materi pembelajaran, ibu guru Sonade juga sering menyelingi dengan humor, pertanyaan, dan acara- acara yang menarik di kelas. Walau ibu guru Sonade seorang wiyata bakti, namun semangat untuk mengajarnya tinggi.
Waktu istirahat pun tiba. Saatnya ibu guru Sonade untuk sejenak melepas lelah. Suaranya hampir serak karena terus menerus berbicara. Berbicara untuk mengajar murid – murid itu, ataupun untuk mengingatkan mereka yang usil dan ramai. Benar – benar hari yang melelahkan.

Bu Sonade dikejutkan oleh suara seorang pemuda gagah yang mengetuk pintu kantor guru yang mirip gudang itu. Dipersilahkannya masuk tamu itu, duduk di kursi reyot tanpa sandaran.

“ Ada keperluan apa ya Pak?” Bu Sonade bertanya heran karena biasanya tak ada yang mentamu di sekolah terpencil itu.
Saya Sasuke Bu, murid Ibu,” jawab pemuda yang bernama Sasuke itu.
“Hah… Sasuke, Sasuke ‘jabrig’ itu ?” bu Sonade tertegun karena Sasuke yang oleh teman- temannya dulu di panggil jabrig ini, kini menjadi orang sukses. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya.
“Betul Bu Alhamdulillah, Ibu tidak lupa dengan saya!” Sasuke menjawab dengan seyum.
“Bagaimana Ibu bisa lupa dengan anak yang paling bandel seperti kamu!” jawab ibu Sonade dengan gembiranya. Lepaslah tawa diantara mereka.

Rupanya, pemuda gagah di hadapannya saat ini adalah Sasuke. Putera dari Polisi penjaga desa terpencil yang dulu ditugaskan di daerah itu, namun akhirnya pindah ke kota seperti yang lain – lain.  Seperti guru – guru negeri di Sekolah itu yang akhirnya pindah juga sehingga kini yang tersisa di sekolah itu hanyalah pak guru Kakashi, yang merupakan suami ibu Sonade yang sedang sakit di rumah dan dijaga oleh putera tunggal mereka Gara. Pak Kakashi adalah kepala sekolah sekaligus guru kelas IV, V, dan VI. Sementara ini masuknya bergantian dengan kelas I, II, dan III saat pak Kakashi sedang sakit, karena tak mungkin bu Sonade mengajar enam kelas sekaligus, meskipun di sekolah itu hanya terdiri dari dua ruangan kelas dan satu ruang kecil tambahan untuk ruang guru. Sementara kelas yang lain sudah roboh dan belum diperbaiki. Sarana dan prasarana di daerah terpencil itu sangat sulit dan memprihatinkan, diperparah lagi dengan longsor dan terjangan angin puting beliung yang sering melanda daerah itu.

Semangat pengabdiannya mengalahkan segalanya. Ekonomi keluarga yang pas-pasan , pekerjaan yang tidak ada kepastian, karena beribu – ribu tenaga wiyata bakti katanya mengabdi, tapi terus menerus untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Tetapi berbeda dengan bu Sonade ini, meskipun hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah, kepiawaiannya dan pengalamannya dalam mengajar tidak kalah hebat dengan guru – guru lain yang berijazah lebih tinggi darinya, kepercayaan masyarakatlah yang membuatnya bisa menjadi guru karena bu Sonade adalah puteri seorang ulama sekaligus tokoh masyarakat daerah itu, juga karena beliau istri seorang guru. Buktinya, berapa banyak orang – orang hebat seperti Sasuke yang lahir dari tangan – tangan   berjasa seperti bu Sonade ini. Jadi semangatlah Guru – guru di Indonesia!!
Karna hidup punya banyak rasa untuk harimu