Like on Facebook

Sabtu, 17 Maret 2012

DAMPAK KENAIKAN HARGA BERAS TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PETANI BERAS DESA CIPAKU KABUPATEN PURBALINGGA


Disusun dalam rangka mengikuti
Lomba Penelitian Ilmiah Remaja ( LPIR ) Bidang Studi IPS
Tingkat SMP / MTs Negeri dan Swasta
Departemen Pendidikan Nasional








Disusun Oleh :
HARDIKA DWI HERMAWAN ( No. Induk 0506110028 )

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMP NEGERI 1 PURBALINGGA
Jalan Kapten Piere Tendean No.8, Telp. (0281)891089, Purbalingga



HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian : “ DAMPAK KENAIKAN HARGA BERAS TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PETANI BERAS DESA CIPAKU KABUPATEN PURBALINGGA “
Nama Penyusun : Hardika Dwi Hermawan ( No.Induk 0506110028)
Disahkan di : Purbalingga
Pada tanggal : Juli 2007
Mengetahui
Kepala SMP N 1 Purbalingga                                          Guru Pembimbing

Drs. AGUS TRIYANTO, M.MPd                                JULIANI IPMAWATI S.Pd
NIP. 131815498                                                            NIGB. 112900507


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan kehendak-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa pendapatan petani bergantung pada hasil panen padi milik mereka. Sebagian besar petani pendapatannya hanya cukup atau pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Maka dari itu, saya mencoba menelti tentang dampak kenaikan harga beras terhadap tingkat pendapatan petani beras di Desa Cipaku,Kabupaten Purbalingga
Dalam kesempatan ini tidak lupa saya berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu guru serta pihak yang membantu terselesainnya penyusunan makalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung dalam penyelenggaraannya penelitian ini.
Meskipun sudah diupayakan semaksimal mungkin saya tetap menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Untuk itu, kritik, komentar, dan saran sangat saya harapkan untuk menyempurnakannya. Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca.
Purbalingga, Juli 2007
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL…………………………………………………………………. i
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………. ii
KATA PENGANTAR.…………………………………………………. iii
DAFTAR ISI …………………………………………………………… iv
DAFTAR TABEL ……………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………… 4
1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………….. 4
1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………… 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………… 5
2.1 Tinjauan tentang Pertanian…………………………………… 5
2.2 Tinjauan tentang Bentuk Pertanian…………………………... 6
2.3 Tinjauan tentang Pertanian Tanam Pangan...………………… 8
2.4 Tinjauan tentang Pengertian Pendapatan……………………. 11
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan tempat penelitian………………………………… 12
3.2 Metode Penelitian……………………………………………. 12
3.3 Analisis Data…………………………………………………. 12
BAB IV HASIL PENELITIAN………………………………………….. 13
4.1 Penyebab Kenaikan Harga Beras…………………………….. 13
4.2 Dampak Kenaikan Harga Beras terhadap tingkat Pendapatan Petani Beras…………………………………………………... 17
BAB V PENUTUP……………………………………………………….. 22
5.1 Kesimpulan…………………………………………………… 22
5.2 Saran…………………………………………………………... 23
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 24
BIODATA PENYUSUN…………………………………………………. 25

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Kesempatan Kerja Menurut Beberapa Sektor…………………… 2
Tabel 2 Perbedaan antara Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Besar…… 8
Tabel 3 Produksi Padi 1968 – 2000………………………………………. 9
Tabel 4 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Cipaku…………………… 13
Tabel 5 Mata Pencaharian Penduduk dan Luas Wilayah Desa Cipaku…… 14
Tabel 6 Hasil Wawancara tentang Kenaikan Harga Beras……………….. 15
Tabel 7 Pertanyaan dan Hasil Jawaban Responden………………………. 17

v
Tabel 8 Rata-rata Penguasaan Lahan oleh RT Pertanian Tanaman Pangan. 20


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2007 ini, Indonesia dilanda krisis pangan yaitu kenaikan beras yang begitu tinggi. Harga beras yang begitu tinggi, mengakibatkan sebagian masyarakat Indonesia beralih ke makanan pokok pengganti lainnya yang harganya relatif murah, seperti singkong, jagung, kentang, dan berbagai jenis umbi-umbian. Krisis pangan bisa dalam dua arti, yakni keterbatasan stok atau kualitas rendah. Dalam teori Malthus, pengertian krisis pangan adalah dalam arti persediaan terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan bagi semua penduduk.
Kemiskinan dan kehancuran petani Indonesia semakin diperparah dengan lahan pertanian milik petani yang kian berkurang. Data di BPS pada 2002 disebutkan, buruh tani pada 1995 berjumlah sekitar 5,064 juta keluarga dan meningkat menjadi 7,10 juta keluarga pada 1999. Pada 2003 tercatat ada 11,7 juta keluarga buruh tani. Jumlah tersebut terus meningkat setiap tahunnya.
Impor beras adalah strategi jangka pendek yang tentunya "terpaksa" dilakukan karena kondisi Indonesia sudah kritis akibat bencana alam dan berbagai faktor darurat lain. Indonesia terjebak dalam kebijakan pangan yang monokultur, yang merupakan bagian dari upaya penyeragaman kebudayaan sejak Orde Baru. Indonesia menjadi sangat bergantung pada satu jenis tanaman pangan, yaitu padi yang menghasilkan beras sebagai bahan pokok pangan.
Ribuan suku bangsa di Indonesia dapat menghasilkan sumber makanan yang beraneka ragam. Kearifan pangan lokal, seperti sagu, umbi-umbian, dan jagung mempunyai sumber energi karbohidrat yang berkualitas. Jika alam di wilayah tersebut tidak cocok untuk budidaya padi, yang terjadi adalah kelaparan seperti di Sikka (NTT) dan daerah lain di Indonesia.
Menurut Suryana dkk. (2001), beras sebagai makanan pokok tampaknya tetap mendominan pola makan orang Indonesia. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi konsumsi beras di Indonesia yang masih diatas 95%.
Bagi Indonesia, impor pangan adalah hal yang sangat biasa dan sudah dianggap wajar. Mulai dari gandum (untuk terigu), kedelai, gula hingga beras, ternyata sulit dipenuhi sendiri oleh Indonesia. Ironis memang, terutama Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Negara agraris merupakan negeri yang masih didomonasi oleh ekonomi pedesaan, sebagian besar dari jumlah angkatan kerja atau tenaga kerja bekerja di pertanian. Seperti yang dapat dilihat di tabel 1, tahun 1982 jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor tersebut tercatat 31,6 juta orang, atau lebih 50% dari jumlah tenaga kerja yang ada pada tahun tersebut. Sebagai perbandingan pada tahun yang sama industri manufaktur hanya mengerjakan sekitar 6 juta orang lebih atau pangsanya dalam total kesempatan kerja hanya sekitar 10%. Pada tahun 2000, jumlah orang yang bekerja di pertanian bertambah menjadi 40,7 juta orang lebih, namun masih lebih kecil dibandingakan jumlah pekerja di sektor tersebut pada awal tahun 1990-an, yakni sekitar 41 juta orang.
Tabel 1
Kesempatan Kerja Menurut Beberapa Sektor : 1982-2000(Juta Orang*)
Periode
Pertanian
Industri Manufaktur
Pertambangan
Lainnya
Total
1982
1984
1989
1991
1993
1995
1997
1999
2000
31,6
33,1
41,3
41,2
40,1
35,2
35,9
38,4
40,7
6,0
5,6
7,3
8,0
8,8
10,1
11,2
11,5
11,6
0,4
0,4
0,5
0,6
0,7
0,6
0,9
0,7
0,5
19,8
21,0
24,4
26,7
19,7
34,1
39,1
38,2
37,1
57,8
60,1
73,4
76,4
79,2
80,1
87,1
88,8
89,8
Keterangan :* = dibulatkan
Sumber : BPS
Namun, banyaknya jumlah petani beras tidak mempengaruhi harga beras. Harga beras dipasaran tidak kunjung turun, bahkan persediaan beras di gudang penyimpanan beras makin manipis, hal ini diakibatkan karena adanya pembagian beras oleh Pemerintah Daerah bagi masyarakat. Upaya tersebut dilakukan untuk menetralkan harga beras di pasaran yang tidak kunjung turun. Selain upaya tersebut, Pemda juga mengadakan Operasi Pasar. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil seperti apa yang diharapkan. Beberapa akibat yang ditimbulkan dari kenaikan beras mencakup beberapa akibat, diantaranya :
1. Akibat bagi Pemakai atau Pengkonsumsi dan ;
2. Akibat bagi Petani atau pemproduksi
Dalam penelitian ini, saya akan membahas akibat kenaikan beras terhadap tingkat pendapatan petani beras di Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.Dalam kenaikan harga beras di tahun 2007 ini, apakah kenaikan tersebut berpengaruh terhadap tingkat pendapatan petani ?
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat disimpulkan rumusannya, diantaranya:
1) Apa yang menyebabkan harga beras naik ?
2) Bagaimana dampak kenaikan beras terhadap tingkat pendapatan petani beras desa Cipaku Kabupaten Purbalingga?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini antara lain :
1) Untuk mengetahui penyebab kenaikan harga beras
2) Untuk mengetahui dampak kenaikan harga beras terhadap tingkat pendapatan petani beras desa Cipaku Kabupaten Purbalingga.
1.4 Manfaat Penelitian
Inti dilaksanakannya penelitian ini, adalah untuk mengetahui dampak kenaikan harga beras terhadap tingkat pendapatan petani beras di Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan tentang Pertanian
Penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di pedesaan. Mereka pada umumnya hidup bercocok tanam. Karena itu, pertanian merupakan bidang pembangunan yang penting di Indonesia.
Faktor alam mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertanian. Pengaruh alam atas pertanian tersebut sangat jelas. Pengaruh – pengaruhnya itu adalah sebagai berikut :
a. Pengaruh Iklim terhadap pertanian. Iklim sangat menentukan corak dan jenis tanaman sehingga terdapat perbedaan antara tanaman di daerah panas, daerah subtropis, dan daerah dingin.
b. Pengaruh topografi terhadap pertanian. Pada daerah yang keadaan topografinya berbukit – bukit, pemakain mesin - mesin modern sulit dilaksanakan.
c. Pengaruh pengairan terhadap pertanian. Daerah yang banyak airnya dapat digunakan sebagai area persawahan.
d. Pengaruh angin terhadap pertanian. Angin yang kencang dapat merusak area pertanian.
e. Pengaruh jenis tanah. Jenis tanah sangat berpengaruh terhadap jenis tanaman, waktu bertanam, dan cara bertanam.
Indonesia merupakan Negara agraris. Faktor pendukungnya adalah sebagai berikut :
a. Tanahnya luas dan subur;
b. Iklimnya cocok untuk pertanian, yaitu iklim tropis, suhu cukup tinggi, dan curah hujan tinggi ;
c. Wilayah laut luas dan kaya ikan;
d. Populasi hewan dan tumbuh-tumbuhan banyak jenisnya dan cocok untuk tumbuh di Indonesia
e. Tanah yang berbukit – bukit dapat menambah keragaman holtikultura.
Beberapa bukti bahwa Indonesia merupakan negara agraris adalah sebagai berikut :
a. Sekitar 44,96% angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian (tahun 1998).
b. Ekspor hasil pertanian merupakan sumber devisa yang penting.
c. Bidang pertanian merupakan prioritas dalam pembangunan nasional hingga saat ini.
2.2 Tinjauan tentang Bentuk Pertanian
Kegiatan penduduk Indonesia di bidang pertanian ada dua macam, yaitu pertanian rakyat dan pertanian perkebunan.
1) Pertanian rakyat adalah pertanian yang dikerjakan oleh rakyat. Usaha pertanian rakyat sering disebut pertanian kecil. Berbagai bentuk pertanian rakyat di Indonesia dibedakan menjadi empat macam, yaitu bersawah, berladang, bertegalan, dan berkebun.
a. Bersawah adalah cara bertanam padi di sawah-sawah yang mendapatkan air dari pengairan. Padi sawah dapat digolongkan menjadi dua, yaitu padi rendengan dan padi gadu.
1) Padi rendengan ialah tanaman padi sawah yang waktu tanamnya pada musim penghujan, misalnya pada permulaan musim penghujan, yaitu bulan November – januari dan waktu menuai jatuh pada bulan April – Mei (penghabisan musin penghujan).
2) Padi gadu adalah penanaman padi sawah yang teratur pengairannya dan waktu penanamannya dilakukan sesudah padi rendengan atau musim kemarau. Padi gadu ditanam kira – kira bulan Juni –Juli.
Usaha menanam padi lainnya dengan cara berikut :
1. Padi Lebak adalah padi yang ditanam di tanah lembab di kanan kiri sungai. Bila banjir, daerah ini terendam, tetapi pada musim kemarau daerah ini kering.
2. Padi Banarawa atau sawah rawa adalah sawah yang tidak pernah kering. Sawah ini banyak terdapat di pinggiran rawa atau muara sungai besar.
b. Berladang ( huma ) adalah cara bertanam menebang hutan lalu membakarnya, setelah itu baru ditanami. Setelah ditanami 3 sampai 4 kali, lahan ini ditinggalkan karena tidak subur lagi. Petani lalu membuka bagian lain dari hutan untuk dijadikan ladang. Sesudah beberapa kali tanam mereka pindah lagi kebagian lain. Demikian seterusnya, hingga 10 sampai 20 tahun, baru mereka kembali kebagian pertama. Ladang yang demikian disebut dengan ladang berpindah. Sistem pertanian ladang sangat merugikan, karena merusak hutan dan tanah kehilangan kesuburannya.
c. Bertegalan adalah cara bertanam di tanah kering dengan menggantungkan pada air hujan. Permukaan tanah tegalan tidak tetlalu datar. Pada musim kemarau tegalan tidak ditanami karena terlalu kering. Tanaman utama tegalan adalah jagung, ketela pohon, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan untuk sayuran. Selain itu juga banyak ditanami pohon buah-buahan, dan pohon untuk kayu bakar.
d. Tanaman pekarangan adalah jenis tanaman yang ditanam di sekitar rumah dan dikerjakan secara intensif.
2) Pertanian perkebunan adalah pertanian yang mengusahakan tanaman perkebunan. Berdasarkan modal, system pengolahan, kualitas dan hasil produksinya, pertanian perkebunan dapat dibagi menjadi dua macam,yaitu:
a. Perbebunan rakyat dan;
b. Perkebunan besar
Untuk lebih jelasnya perbedaan antara perkebunan rakyat dan perkebunan besar, anda dapat memperhatikan tabel 2 berikut ini.
Tabel 2
Perbedaan antara Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Besar
Perkebunan Rakyat
Perkebunan Besar
- Diperlukan modal kecil
- Sistem penanamannya kurang memperhatikan kesuburan tanah
- Kurang memperhatikan bibit unggul
- Pengairannya kurang teratur
- Alat-alat sederhana
- Tidak ada atau sedikit tenaga ahli
- Hasil produksi lebih ditujukan untuk kebutuhan sendiri
- Diperlukan modal besar
- Sistem penanamannya memperhatikan kesuburan tanah
- Selalu menggunakan bibit unggul
- Pengairannya teratur
- Alat – alat modern
- Banyak tenaga ahli
- Hasil produksi lebih ditujukan untuk di eksport.
2.3 Tinjauan tentang Pertanian Tanaman Pangan
Jenis makanan pokok atau tanaman pangan pokok sebagian besar rakyat Indonesia adalah beras , jagung di Madura dan Nusa Tenggara Timur, dan Ubi kayu sebagian di Irian Jaya dan daerah Gunung Kidul. Produksi tanaman pangan itu sebagian besar untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan sisanya dijual di pasaran.
Usaha meningkatkan hasil produksi pertanian anrata lain dapat dilakukan dengan lima cara yaitu :
1. Intensifikasi Pertanian
Intensifikasi Pertanian adalah pengolahan lahan pertanian dengan sebaik-baiknya dengan menggunakan beberapa sarana. Sarana-sarana produksi yang digunakan dalam intensifikasi pertanian meliputi lima bidang yang disebut panca usaha tani.
2. Ekstensifikasi Pertanian
Ektensifikasi Pertanian adalah usaha memperluas lahan pertanian dengan cara membuka lahan pertanian baru. Misalnya, dengan cara membuka hutan dan semak-semak, daerah sekitar rawa-rawa. Usaha tersebut hanya dapat dilaksanakan di pulau-pulau besar di luar Jawa. Sebab di daerah itu masih tersedia tanah yang luas.
3. Mekanisasi Pertanian
Mekanisasi pertanian adalah usaha pengolahan sawah dengan menggunakan mesin – mesin.
4. Diversifikasi Pertanian
5. Rehabilitasi Pertanian
Seperti tampak pada Tabel 3, produksi tanaman padi selama periode 1968-1992 hasilnya baik dan meningkat terus. Bahkan pada tahun 1984 Indonesia berhasil mencapai swasembada dalam penyediaan beras secara nasional.
Sukses Indonesia mencapai swasembada beras mendapat pujian internasional. Presiden pada saat itu Soeharto pada tahun 1985 memperoleh kehormatan dengan diundang untuk berpidato dalam sidang FAO di Roma. Perhatikan tabel 3 tentang peningkatan produksi dari tahun 1968-2000.
Tabel 3
Produksi Padi 1968-2000 (juta ton)
Tahun
Produksi Padi Nasional
Beras
Nasional
Jawa
Luar Jawa
Volume
Persentase Pertumbuhan
1968
1973
1978
1983
1988
1990
1991
1992
1994
1996
1997
1998
2000
17,2
21,5
25,8
35,3
41,7
45,2
44,7
48,2
46,6
51,1
49,4
49,2
51,2
tad
tad
tad
tad
tad
27,2
26,4
28,3
26,5
28,4
27,9
27,7
28,5
tad
tad
tad
tad
tad
18,0
18,3
20.0
20,1
22,7
21,5
21,5
22,0
tad
tad
17,5
24,0
29,3
29,4
29,0
21,4
30,3
33,2
31,2
31,1
31,7
tad
tad
10,4
5,1
7,7
1,0
-1,1
8,0
-3,1
2,7
-6,1
-0,3
0,6
Sumber : BPS
Keterangan : tad = tidak ada data
Menurut Surono (2001), kemampuan produksi setiap satu ha lahan di pulau Jawa paling tinggi, yakni menghasilkan padi sebesar 5 ton Gabah Kering Giling (GKG), sedangkan di luar Jawa rata-rata hanya 3,7 ton.
Apabila dilihat dari sisi banyaknya beras yang dikonsumsi di dalam negeri selama periode 1980-an hingga krisis ekonomi (1998), pada tahun-tahun tertentu tingkat produksi beras berada dibawah garis swasembada, yang artinya produksi beras tidak mencukupi kebutuhan konsumsi di dalam negeri, sehingga import beras meningkat. Pada tahun 1990 hingga 1991 volume produksi berada di bawah kebutuhan konsumsi domestik, dan tahun 1992 sampai dengan pertengahan 1993 produksi meningkat cukup tajam hingga melebihi kebutuhan pasar dalam negeri, walapun menjelang akhir tahun itu produksi kembali menurun. Tahun 1997 produksi padi merosot sebesar 3,4% akibat musim kering yang sangat panjang (El Nino) ditambah dengan efek krisis ekonomi. Tahun 1998, pada saat krisis ekonomi mencapai klimaksnya, Indonesia juga mengalami krisis beras yang serius yang ditandai dengan pembelian panik, penjarahan dan kelangkaan artifisial, sehingga harga beras pada saat itu membumbung tinggi. Volume produksi pada saat itu menurun sebesar 4,6% (Simatupang, 2000)
Luas panen padi secara keseluruhan selama tahun 1968-1992 meningkat dari 8.020 ribu ha menjadi 10.870 ribu ha, atau meningkat 1,4 x. Dalam Repelita III dan IV, usaha percetakan sawah mencapai 371 ribu ha. Selama tahun – tahun 1989-1992, total produksi padi rata –rata meningkat 4,3%/tahun.
Bertambah besarnya luas panen padi pada tahun 1998 tidak diikuti oleh peningkatan produksi dan produktivitas padi. Hal itu tercermin dari angka produksi padi pada tahun 1997 yang merosot 3,4%, hingga tahun 1998 volume produksi padi menurun sebesar 4,6%.
2.4 Tinjauan tentang Pengertian Pendapatan
Pendapatan adalah pembayaran yang didapat karena seseorang telah bekerja atau menjual jasa, tetapi tidak sama dengan kekayaan. Karena kekayaan seseorang bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatannya.
Menjelang pertengahan 1997, beberapa saat sebelum krisis ekonomi muncul, tingkat pendapatan per kepala di Indonesia sudah melebihi 1000 dolar AS, dan tingkat ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan 30 tahun yang lalu.
Menurut teori klasik, tingkat pendapatan riil ditentukan oleh produktivitas tenaga kerja dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Tingkat produktivitas dan jenis pekerjaan yang didapat sesorang itu sendiri ditentukan oleh tingkat pendidikan dan ketrampilan. Misalnya, tidak mungkin seorang dokter mata sama gajinya dengan seorang penarik becak.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada hari selasa , tanggal 12 Juni 2007, di desa Cipaku, kecamatan Mrebet, kabupaten Purbalingga, untuk membagikan angket kepada masyarakat yang bersangkutan yaitu petani dan pemilik lahan pertanian. Dilanjutkan pada hari minggu, tanggal 17 Juni 2007 untuk pengambilan angket yang telah diberikan kepada masyarakat yang bersangkutan, dan sekaligus melakukan wawancara atau tinjauan kembali dengan jawaban yang kurang jelas.
3.2 Metode Penelitian
Metode Penelitian yang kami gunakan adalah dengan metode koesioner dan wawancara. Dimana dengan metode koesioner penelitian ini membagikan angket kepada masyarakat yang terkait. Selain itu juga melakukan wawancara secara langsung terhadap 65 petani beras.
3.3 Analisis Data
Pengolahan data yang kami gunakan yaitu dengan cara analisis presentase. Dimana hasilnya akan dijadikan dalam bentuk persen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Penyebab Kenaikan Harga Beras
Kemampuan Indonesia meningkatkan produksi pertanian untuk swasembada dalam penyediaan pangan sangat ditentukan oleh banyak faktor, eksternal maupun internal. Satu-satunya faktor eksternal yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia adalah iklim; walaupun dengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap produksi pertanian bisa diminimalisir. Curah hujan juga mempengaruhi pola produksi, pola panen, dan proses pertumbuhan tanaman. Sedangkan faktor-faktor internal, dalam arti bisa dipengaruhi oleh manusia, diantaranya yang penting adalah luas lahan, bibit, berbagai macam pupuk (seperti urea, TSP, dan KCL), pestisida, ketersediaan dan kualitas infrastruktur termasuk irigasi, jumlah dan kualitas tenaga kerja, serta teknologi. Faktor-faktor internal ini memiliki tingkat krusial yang sama, dalam arti keterkaitan antarfaktor sifatnya komplementer,terkecuali hingga tingkat tertentu antara faktor manusia dan teknologi. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut dalam tingkat keterkaitan yang optimal menentukan tingkat produktivtas lahan (jumlah produk per ha) maupun manusia.
Tabel 4
Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Cipaku
NO
TINGKAT PENDIDIKAN
JUMLAH
Persen (%)
1
Tamat Akademi/Perguruan Tinggi
48 jiwa
0,6
2
Tamat SLTA
327 jiwa
4,35
3
Tamat SLTP
924 jiwa
12,29
4
Tamat SD
4.263 jiwa
56,7
5
Belum Tamat SD
1.237 jiwa
16,46
6
Tidak/belum pernah sekolah
718 jiwa
9,55
Jumlah
7.517 jiwa
Sumber : Data Profil Desa Cipaku (2007)
Dalam penelitian ini saya melakukan wawancara terhadap 65 orang petani beras tentang penyebab kenaikan harga beras. Jawabannyapun bermacam-macam. Berdasarkan Data Profil Desa Cipaku (tabel 4) masyarakat Desa Cipaku rata-rata tingkat pendidikannya tamatan SD yaitu sejumlah 4263 jiwa atau 56,7% dari total jumlah penduduk yaitu 7.517, bahkan 16,46% penduduk belum tamat Sekolah Dasar, sehingga terdapat kendala dalam melakukan wawancara, dari target 75 hanya 65 petani yang sanggup menjawab pertanyaan yang diajukan.
Mata Pencaharian penduduk Desa Cipaku yang didomonasi oleh kalangan petani dan buruh tani yaitu sekitar 1974 jiwa(tabel 5 Mata Pencaharian Penduduk Desa Cipaku dan Luas Wilayah Desa) sangat membuktikan penyebab kenaikan harga beras pada tahun 2007 ini, terhadap tingkat pendapatan para petani. Apalagi luas sawah yang mencapai 181,595 ha atau 50,35% dari luas wilayah Desa Cipaku.
Tabel 5
Mata Pencaharian Penduduk dan Luas Wilayah Desa Cipaku
Mata Pencaharian
Jumlah (jiwa)
Luas Wilayah Desa
Pemukiman
Sawah
Fasilitas Umum
Petani dan Buruh Tani
1974
166,320 ha
81,595 ha
12,725 ha
Buruh Industri
Buruh Bangunan
Pedagang
Pengangkutan
Pegawai Negeri Sipil
ABRI / POLRI
Jumlah :
360,640 ha
Pensiunan
Lain-lain( home industri dan anyam-anyaman)
Sumber : Data Profil Desa Cipaku (2007)
Berdasarkan tabel 6 Hasil Wawancara tentang penyebab kenaikan harga beras 35,38% atau 23 petani menyatakan bahwa penyebab kenaikan harga beras pada awal tahun 2007 ini adalah hasil panen padi yang menurun. Petani juga menjelaskan akibat hasil panen menurun itu dikarenakan hama tanaman yang menyerang padi mereka. Sebagian petani juga menyebutkan bahwa yang menyebabkan pendapatan menurun adalah karena beberapa faktor antara lain yaitu pengaruh musim dan hama padi (hama putih dan tumro atau wereng coklat). Masyarakat Desa Cipaku menyebutnya sebagai hama putih, karena hama ini menyerang padi yang baru berumur sekitar 15 sampai dengan 30 hari, dan menyebabkan daun padi berwarna putih, maka hama tersebut disebut sebagai hama putih. Selain hama putih juga terdapat hama tumro atau wereng cokelat, hama ini menyerang padi yang berumur 30 hari sampai dengan masa menjelang panen tiba, hama ini menyebabkan daun padi berwarna merah kecoklatan atau kering. Serta penyebab harga beras naik 18,46% atau 12 petani menyatakan kenaikan harga beras tersebut dikarenakan berkurangnya lahan pertanian.
Tabel 6
Hasil Wawancara
tentang Penyebab Kenaikan Harga Beras
NO
Respon atau Tanggapan
Jumlah Responden
Petani
Presentase
1
Kenaikan Harga Kebutuhan Pertanian
9
13,84%
2
Naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM)
8
12,3%
3
Pengaruh Musim
7
11,11%
4
Berkurangnya Lahan Pertanian
12
18,46%
5
Hasil Panen Padi yang Menurun (terserang hama)
23
35,38%
6
Kurangnya Stok Beras
2
3,07%
7
Lain-lain
2
3,07%
Memang hingga saat ini sudah cukup banyak studi yang dilakukan mengenai pengurangan lahan pertanian di Indonesia. Diantaranya adalah dari Sudaryanto (2001) yang menunjukan bahwa lebih dari 55% lahan sawah mengalami pengalihan di Jawa beralih fungsi menjadi pemukiman (termasuk real estate), kawasan industri dan prasarana sosial ekonomi lainnya. Menurutnya, kawasan Pantai Utara(Pantura) pulau Jawa yang secara de facto adalah lumbung beras nasional ternyata sangat rawan terhadap konversi akibat rambatan spasial dari penyebaran pertumbuhan industri dan jasa yang berdampingan dengan akses wilayah terhadap jalur utama untuk barang dan jasa antara Jawa Barat (khususnya Jakarta dan sekitarnya), Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Menurut pengamatan Adi (2002), di Jawa dan Bali lahan sawah berkurang mencapai sekitar 8.500 ha per tahun, dan lahan kering (padi gogo, palawija, tanaman semusim lainnya)15.600 ha per tahun. Angka total konversi lahan pertanian di kedua pulau tersebut, termasuk kebun campuran, perkebunan, dan sebagainya, diperkirakan mencapai sekitar 30.000 ha per tahun. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan status pemakaian dari pertanian ke nonpertanian.
Hasil Penelitian dari Syafa’at dkk.(1995) menunjukan bahwa alas an utama petani melakukan konversi lahan adalah karena kebutuhan ekonomi serta harga yang ditawarkan pembeli menarik. Petani akan cenderung tidak menjual tanahnya apabila pendapatan dari hasil pertanian mencukupi, atau apabila rasio pendapatan tinggi. Selain itu, menurut Sudaryanto (2000), harga dan pajak lahan yang tinggi cenderung mendorong petani melakukan konversi.
Setelah kita membahas tentang penurunan lahan pertanian kita kembali pada pokok permasalahan, yaitu penyebab kenaikan harga beras. Setelah penyebab lahan pertanian yang berkurang, 13,84 % atau 9 petani menyatakan penyebab kenaikan harga beras adalah kenaikan harga kebutuhan pertanian seperti pupuk, pestisida dan lain-lain., 12,3% atau 8 petani menyatakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengakibatkan harga beras naik. Dan sisanya karna diakibatkan faktor-faktor lain, diantaranya 11,11% oleh musim, 3,07% oleh kurangnya stok beras, dan sisanya 3,07% lain-lannya.
4.2 Dampak Kenaikan Harga Beras terhadap Tingkat Pendapatan Petani Beras
Saya membagikan 75 angket pertanyaan kepada masyarakat Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Berikut pertanyaan dan hasil dari jawaban responden.
Tabel 7
Daftar Pertanyaan dan Hasil Jawaban Responden
No
Pertanyaan
Jawaban
Jumlah
Petani
Persentase
1
Bagaimana keadaan perekonomian keluarga anda sebelum adanya kenaikan harga beras?
Sangat baik
Baik
Cukup
Tidak baik
2
23
46
4
2,6%
30,6%
61,3%
5,3%
2
Dengan adanya kenaikan harga beras. Apakah keluarga anda mencari penghasilan dari usaha lain ?
Ya
Tidak
47
27
62,6%
36%
3
Apakah ada pengaruhnya, kenaikan harga beras terhadap tingkat pendapatan anda ?
Ada
Tidak ada
65
10
86,6%
13,3%
4
Apakah produksi beras / hasil panen meningkat, ketika terjadi kenaikan harga beras ?
Meningkat
Menurun
Biasa
Tidak tahu
8
37
27
3
10,6%
49,3%
36%
4%
5
Bagaimana keadaan perekonomian keluarga anda ketika terjadi kenaikan harga beras ?
Semakin Baik
Tetap
Kurang Baik
Tidak Baik
1
19
50
5
1,3%
25,3%
66,6%
6,6%
6
Apakah pendapatan anda bertambah atau malah berkurang dengan adanya kenaikan harga beras ?
Bertambah
Berkurang
Tetap atau stabil
7
42
26
9,3%
56%
34,6%
7
Ketika harga beras naik. Apakah kenaikan tersebut mempengaruhi terhadap harga kebutuhan pertanian lainnya seperti pupuk dan intektisida?
Ya
Tidak
Tidak tahu
63
4
8
84%
5,3%
10,6%
8
Ketika harga beras naik. Apakah pola konsumsi anda bertambah atau berkurang?
Bertambah
Berkurang
Biasa saja
5
18
52
6,6%
24%
69,3%
9
Ketika harga beras turun. Apakah pola konsumsi anda bertambah atau berkurang ?
Bertambah
Berkurang
Biasa saja
17
6
52
22,6%
8%
69,3%
Setelah melakukan penelitian, terdapat hasil yang diperoleh, yang pertama, 61,3% atau 46 petani sebelum adanya kenaikan harga beras keadaan perekonomiannya cukup, tetapi ketika terjadi kenaikan harga beras keadaan perekonomian petani beras menjadi kurang baik yaitu dengan presentase 66,6% atau 50 orang. Kenaikan harga beras tersebut menyebabkan petani beras mencari penghasilan dari usaha lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Usaha lain yang dijalani sebagian besar petani tersebut antara lain berdagang dan beternak lele. Namun lain, bagi petani pemilik lahan yang mempunyai pekerjaan lain, mereka mengolah lahan pertanian sebagai penghasilan tambahan.
Yang kedua adanya kenaikan harga beras, juga berpengaruh terhadap tingkat pendapatan petani. Sebagian petani penggarap lahan menyatakan bahwa pendapatan mereka bertambah yaitu hanya 7 orang petani dengan presentase 9,3%. Kemudian bagi pemilik lahan pendapatan mereka rata-rata berkurang dengan presentase 56%, sisanya 34,6% penghasilan mereka tetap atau stabil. Dalam arti lain pendapatan mereka tidak bertambah ataupun tidak berkurang. Indeks harga rata-rata per bulan yang diterima petani, indeks harga rata-rata yang dibayar petani, dan nilai tukar petani di empat provinsi di Jawa selama periode 1988-2002 berkembang. Hingga 1999, ketiga indeks tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, dan setelah itu beberapa mengalami penurunan. Jawa Barat ternyata bukan provinsi dengan laju pertumbuhan indeks harga yang diterima petani tertinggi. Hingga tahun 1999, pertumbuhannya tercatat hanya sekitar 427%, sedangkan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur masing-masing mencapai 341%, 450%, dan 473%. Sedangkan, pertumbuhan indeks harga yang dibayar petani di Jawa Barat dan Jawa Timur lebih besar dari pada pertumbuhan indeks yang diterima petaninya masing-masing(450% dan 421%), sehingga selama periode tersebut, nilai tukar petani dari kedua provinsi mengalami pertumbuhan negatif.
Ternyata Kenaikan harga beras tidak cukup berpengaruh terhadap pendapatan pemilik lahan pertanian, tetapi memang sebagian besar pemilik lahan pendapatannya menurun pada saat terjadi kenaikan harga beras hal ini juga dikarenakan adanya hama tanaman (hama putih dan hama wereng cokelat) yang menyerang padi mereka. Hama ini menyebabkan kualitas padi menurun, kualitas padi yang menurun menyebabkan pendapatan mereka ikut menurun. Selain hama, benih unggul untuk tanaman padi harganya tinggi, sehingga bagi sebagian petani menggunakan benih unggul hanyalah untuk petani besar yang memiliki lahan yang luas. Mereka yang memiliki lahan pas-pasan menggunakan benih hasil produksi padi yang telah dipanen pada musim panen sebelumnya, atau membeli bibit yang harganya cukup. Namun, menurut sebagian petani, bibit yang mereka beli, kadang-kadang membuahkan hasil biasa, mereka mengira bahwa bibit tersebut telah dioplos atau dipalsukan oleh para pedagang. Banyaknya petani yang memiliki lahan pertanian kurang dari 0,5 ha. Berdasarkan SP 1993 (BPS) tabel 7 tentang rata-rata penguasaan Lahan oleh Rumah Tangga pertanian tanaman pangan tahun 1993, menunjukan bahwa sebagian besar dari jumlah rumah tanggga pertanian yang masuk dalam sampel menguasai lahan rata-rata di bawah 0,5 ha dari luas lahan sebesar 2,1 juta ha. Sedangkan proporsi dari jumlah rumah tangga pertanian tersebut memiliki lahan diatas 1 ha tercatat tidak sampai 29%, yang rata-rata memiliki 2,07 ha per keluarga. Pada tahun 2001, rata-rata penguasaan lahan per keluarga dari kelompok di bawah 0,5 ha, diperkirakan tidak sampai 0,22 ha, dengan proporsi lebih dari 55% dari jumlah petani. Pada tahun 2007 ini penguasaan lahan oleh Petani Desa Cipaku hanya mencapai 0,24 ha. Banyaknya keluarga yang memilih bekerja di Industri (perhatikan tabel 5) dan sempitnya lahan pertanian, mengakibatkan penguasaan lahan pertanian oleh rumah tangga menurun. Bahkan banyak penduduk yang memiliki lahan hanya sebatas tempat tinggal atau sama sekali tidak memiliki lahan. Hal ini dibuktikan banyaknya penduduk yang mengontrak dan tinggal di perumahan.

19
Tabel 8
Rata-rata Penguasaan Lahan oleh RT Pertanian Tanaman Pangan
Tahun 1993
Luas Lahan yang
Dikuasai (ha)
Jumlah RT
% RT
Luas Lahan (ha)
Rata-rata Lahan/RT(ha)
Kurang dari 0,5 ha
0,5 ha – 0,99 ha
lebih dari 1 ha
8.726.434
4.130.271
5.121.722
48,5
23,0
28,5
2.099.421
2.749.943
10.591.257
0,24
0,67
2,07
Total
17.978.427
100,0
15.440.621
0,86
Sumber : SP 1993 (BPS)
Yang ketiga, kenaikan harga beras juga berdampak negatif terhadap harga kebutuhan pertanian ( pupuk, intektisida maupun pestisida ) dengan presentase 84% atau 63 orang. Padahal obat pemberantas hama sangat dibutuhkan petani untuk membrantas hama putih dan hama wereng. Selain obat pemberantas hama juga harga pupuk, yang bagi banyak petani terlalu mahal. Harga pupuk yang mahal tidak terlalu disebabkan oleh volume produksi atau suplai pupuk (termasuk pupuk impor) di dalam negeri yang terbatas, tetapi oleh adanya distorsi di dalam sistem pendistribusiannya. Harga pupuk yang mahal bisa juga salah satu instrumen pemerintah untuk mengalihkan surplus di sektor pertanian ke sektor industri. Tingginya harga input untuk pertanian (misalnya pupuk) dikarenakan pemerintah menerapkan tarif impor untuk melindungi industri pupuk dalam negeri. Selain itu , belakangan ini naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik juga mempunyai suatu kontribusi yang besar terhadap peningkatan biaya produksi petani.
Yang keempat, kenaikan harga beras tidak menyebabkan pola konsumsi masyarakat petani menurun, mereka menyatakan karena beras merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditunda-tunda dan harus dipenuhi secepatnya. Adapun persentase yaitu 69,3% petani tidak mengurangi atau menambah pola konsumsinya. Artinya, kenaikan harga beras tidak berpengaruh terhadap pola konsumsi dan hanya berpengaruh terhadap tingkat pendapatan sebagian besar petani saja. Namun 24% petani mengurangi konsumsi terhadap beras dan menjadikan makanan lain yang mengandung karbohidrat sebagai makanan pengganti . Mereka menyatakan harga beras yang terlalu mahal ( kondisi ‘abnormal’ ), menyebabkan perubahan dalam pola konsumsi masyarakat: orang akan mensubstitusikan beras dengan bahan makanan lainnya, misalnya singkong atau kentang. Sama halnya dengan bensin. Dalam keadaan normal, permintaan terhadap bensin hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan bermotor dan pendapatan masyarakat(pemilik). Pada umumnya orang tidak membeli bensin untuk maksud spekulasi. Namun, jika harga premium, misalnya, mencapai Rp. 7500 dan cenderung akan naik terus, besar kemungkinan akan terjadi spekulasi antara bensin dengan gas, diesel, solar, listrik, atau alcohol. Hal ini dikarenakan pendapatan mereka yang turun, pendapatan yang turun mengakibatkan sebagian petani menurunkan pola konsumsinya untuk menyeimbangkan kebutuhan lain selain konsumsi ( uang saku anak, kebutuhan sekolah dan lain-lain).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa, penyebab kenaikan harga beras pada tahun 2007 yaitu :
1. Hasil panen padi petani yang menurun. Hal ini dikarenakan padi milik petani terserang hama, hama yang menyerang padi mereka antara lain hama putih dan tumor atau sejenis wereng coklat. Hama putih menyerang padi yang berumur 15 sampai dengan 30 hari, hama ini mengakibatkan warna daun menjadi putih pada bagian ujung daun. Namun berbeda dengan tumor, hama ini menyerang padi yang berumur 30 hari sampai dengan masa panen tiba, dan menyebabkan warna daun pada bagian ujung berwarna coklat kemerahan atau kering.
2. Lahan pertanian yang semakin sempit mengakibatkan produksi padi menurun. Lahan pertanian tersebut digunakan antara lain sebagai pemukiman penduduk.
3. Tingginya harga kebutuhan pertanian seperti pupuk, pestisida, dan intektisida. Tingginya harga kebutuhan pertanian mengakibatkan petani tidak dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal..
4. Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak ( BBM )
5. Musim atau cuaca buruk, dan kurangnya stok beras yaitu keterbatasan beras.
Dampak kenaikan beras ternyata berdampak negatif terhadap pemilik lahan pertanian dan sebagian penggarap lahan di Desa Cipaku. Pendapatan mereka menurun pada saat terjadinya kenaikan harga beras. Pendapatan petani yang sebelumnya normal dan cukup, menjadi kurang baik ketika terjadi kenaikan harga beras, tetapi terdapat juga petani yang pendapatannya tetap atau stabil ketika terjadi kenaikan harga beras tersebut. Pendapatan yang berkurang menyebabkan sebagian petani mencari usaha lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Usaha yang dikerjakan petani diantaranya berdagang, dan beternak lele. Harga beras yang terlalu mahal ( kondisi ‘abnormal’ ), menyebabkan perubahan dalam pola konsumsi sebagian masyarakat: orang akan mensubstitusikan beras dengan bahan makanan lainnya, misalnya singkong atau kentang. Dalam masalah ini artinya, kedaulatan pangan belum tercapai seutuhnya.
5.2 Saran
Berikut usaha untuk meningkatkan produktivitaa, menjaga pendapatan petani beras biar stabil dan upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan :
1. Pemerintah harus bekerja sama dengan petani untuk meningkatkan produksi padi milik mereka.
2. Pemerintah meminimalisir menyempitnya lahan pertanian. Sehingga produktivitas pertanian tetap stabil.
3. Pemerintah memberikan subsidi pupuk, pestisida, insektisida, fungisida dan alat-alat pertanian untuk membantu meningkatkan kualitas padi mereka. Dalam arti lain, pendapatan petani dapat meningkat karena kualitas padi yang baik.
4. Pentingnya ada kemauan politik dari para pemimpin Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pangan. .
5. WTO harus mencabut agenda pertanian karena telah meliberalisasikan pertanian. Impor beras Indonesia adalah satu dari sekian dampak liberalisasi pertanian.
6. Perlindungan kepada petani perlu ditingkatkan dengan kepastian harga dan memperkuat lembaga negara yang menjalankan perlindungan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
BPS ( 1993 ), Statistik Indonesia 1993. Jakarta, Biro Pusat Statistik.
BPS ( 2000 ), Statistik Indonesia 2000. Jakarta, Biro Pusat Statistik.
BPS ( 2002 ), Statistik Indonesia 2002. Jakarta, Biro Pusat Statistik.
_______. 2007. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Cipaku.
Cipaku, Data Profil Desa
_______. 2007. Mata Pencaharian Penduduk Desa Cipaku.
Cipaku, Data Profil Desa
_______. 2007 . Luas Wilayah Desa Cipaku. Cipaku, Data Profil Desa
Kuswanto, dkk. 1999. IPS Geografi kelas 2 SLTP. Solo, Tiga Serangkai.
Supijah Siti, dkk. 1997. Pelajaran Geografi kelas 1 SLTP. Jakarta, Yudistira..
Tambunan T.H. Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia. Jakarta, Ghalia Indonesia.
Sulistyo B. Hasan, dkk. 2005. Geografi untuk SMP kelas VII. Jakarta, Erlangga.
www.google.com. 2007. Peran Petani dalam Kedaulatan Pangan Dunia.
BIODATA PENYUSUN
Nama Lengkap : HARDIKA DWI HERMAWAN
Tempat Tanggal Lahir : Purbalingga, 21 Agustus 1992
Nomor Induk : 0506110028
Alamat Rumah : Desa Cipaku, RT02/I, Kec. Mrebet, Kab. Purbalingga.
Nama Sekolah : SMP Negeri 1 Purbalingga
Alamat Sekolah : Jalan Kapten Piere Tendean No.8
Telp. (0281)891089, Purbalingga
Cita – Cita : Dosen
Hobi : Badminton, Komputer
Karya Ilmiah yang pernah diikuti : -
Karna hidup punya banyak rasa untuk harimu