Like on Facebook

Selasa, 01 Januari 2013

INYONG?? NGAPAK? Check it out !

Sebelumnya postingan ini aku posting di site Kemangga (Keluarga Mahasiswa Purbalingga).
Langsung saja.

Banyak orang yang merasa dialek banyumasan atau sering disebut Ngapak itu lucu dan aneh. Nah, sekarang kita cari tau apa itu Bahasa Jawa Banyumasan atau orang sering menyebutnya dengan Ngapak.

Kebetulan aku juga berasal dari Purbalingga, dan asli Ngapak... :D

Bahasa ngapak yang terasa aneh bagi masyarakat Jawa lainnya adalah kata-kata seperti ini :
Inyong = Aku
Kencot = Lapar (Jawa Jogja = Ngelih )
Kepriwe = Bagaimana (Jawa Jogja = Piye)
Bebeh = Malas
Maregi = Nyebeli
Maen = Bagus (Apik)
Gutul = Sampe
Londhog = Pelan (Alon)

DAERAH MANA YANG MENGGUNAKAN LOGAT NGAPAK?
 Selain Purbalingga daerah lain tentunya adalah daerah Cilacap, Purwokerto, Tegal, Banjarnegara, Gombong, Kebumen, Pemalang dan sekitarnya.



 ---------------------------------------------------------
(dari : http://www.kaskus.co.id/thread/50e11647ea74b4773a00000a/apa-itu-ngapak/ )
Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak adalah kelompok bahasa bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.

Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan kelompok bahasa Jawa bagian Timur.Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap dibedakan dengan Jawa Barat/Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak).

Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.
------------------------------------------------------------------------------------

Nah seperti itu kira-kira tentang bahasa Jawa Banyumasan atau Ngapak...
Sungguh Indonesia kaya akan keanekaragaman, termasuk dalam Bahasa Jawa itu sendiri juga banyak dan beragam, dari logat dan kata-kata... :D

0 komentar:

Karna hidup punya banyak rasa untuk harimu