Like on Facebook

Jumat, 16 November 2012

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunnya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?."
Ibunya menjawab," Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak".
"Aku tak mengerti." kata si Anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluk erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti..."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"


Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

"Saat kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kucptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehanyatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelah. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkiyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan utnuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walaupun seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikankepada suami, agar tetap berdiri,  sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya. Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenatnya, air mata ini adalah air mata kehidupan."

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu Kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan Surga.
================================
Aku dan Ibuku.. :)
( Hardika Dwi Hermawan )


Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir.
Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuk setiap orang yang ditemuinya.
melingkupi setiap kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti bintang malam.
(art Urban)

0 komentar:

Karna hidup punya banyak rasa untuk harimu